BikersMU Melaju Bersama Dakwah
Beranda | Profil | Info&Berita | Tips&Trik | Roda Dakwah | Galeri | Merchandise&Gear | E-BisnisMU | Kontak
26 September 2026
Kematian pasti akan mendatangi manusia dimana saja berada.
Kematian tidak mengenal usia muda atau tua.
Bahkan kematian seseorang tidak harus lantaran sakit.
Maka kemanapun akan bersembunyi, maut pasti akan mendatangi.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Jum'ah ayat 8, yang berbunyi :
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِ نَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ.
"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Harapan setiap insan beriman, saat jelang sakaratul maut bisa Husnul Khatimah.
Oleh sebab itu Rasulullah Saw. mengajarkan do'a kepada kita, yang berbunyi :
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ،
"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya (masa tuanya),
وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ،
Dan jadikanlah sebaik-baik amalku pada penutupnya (akhir hayat),
وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ
Serta jadikanlah sebaik-baik hariku adalah hari saat aku bertemu dengan-Mu (di akhirat)."
Makna Do'a Tersebut :
(1). Do'a tersebut mengajarkan kita agar kualitas iman, ibadah, dan amal shaleh kita semakin meningkat seiring bertambahnya usia, bukan justru menurun.
(2). Puncak dari kebaikan hidup seorang Muslim adalah ketika ia menghembuskan napas terakhir dalam keadaan rida dan diridai Allah SWT (husnul khatimah).
(HR . Ibnu As-Sunni).
من كان آخرُ كلامهِ لا إلهَ إلَّا اللهُ دخل الجنَّةَ
“Siapa yang di akhir hayatnya bisa mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), maka ia masuk surga.”
(HR Abu Daud).
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga Allah Ta'ala selalu memberi hidayah kepada kita semua, bisa Istiqamah dalam IBADAH hingga akhir hayat bisa Husnul Khatimah!
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.
Ustadz Abah Dini
23 September 2026
Ada sebuah ungkapan arab :
الدنيا دار عمل ولا جزاء، والآخرة دار جزاء ولا عمل
"Ad-dunya darul amal, wal akhiratu darul jaza"
Itu bukanlah bunyi hadits Nabi Muhammad SAW yang marfu' (bersumber langsung dari Nabi dengan sanad sahih),
melainkan sebuah mutiara perkataan (hikmah) atau atsar dari para ulama salaf.
Sehingga kita umat Islam jangan sampai kliru, bahwa setiap ungkapan yang tertulis pakai bahasa Arab itu hadits!
Ungkapan ini sering dinisbahkan sebagai perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah atau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dalam bentuk makna yang serupa.
Allah Ta'ala memerintahkan agar manusia menjadikan segala karunia duniawi sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan di akhirat.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Qashash Ayat 77, yang berbunyi :
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Menurut Tafsir Al-Madinah Al-Munawaroh :
Sebuah seruan kepada Qarun.
Hai Qarun, carilah kenikmatan yang kekal di akhirat melalui infak di jalan kebaikan, karena sebaik-baik harta adalah harta yang digunakan pemiliknya untuk berinfak di jalan Allah, sebab harta itu adalah harta Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Kami tidak mengolokmu yang telah mendapatkan kenikmatan dunia melalui cara yang dihalalkan Allah.
Hai Qarun, bersyukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan kepadamu dapat membuatmu bersungguh-sungguh dalam berinfak.
Perintah kebaikan ini juga bermakna larangan berbuat kerusakan di bumi yang kamu tinggali.
Dan ingatlah bahwa Allah tidak menyukai hamba-Nya yang sombong dan angkuh, Dia akan memberi perhitungan kepada seluruh makhluk atas apa yang telah mereka kerjakan.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi kehidupan kita terhindar dari sifat Qarun!
Ustadz Abah Dini
03 September 2026
Shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
Karena Shalat adalah "tiang agama juga batas pemisah antara keislaman dengan kekufuran dan kemunafikan."
Oleh karena itu, maka Rasulullah Saw. memberikan perhatian ekstra terhadap masalah shalat.
Bahkan Rasulullah Saw. Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan contoh pelaksanaannya secara detail, dari awal sampai akhir, dari takbir sampai salam.
Itu semua menunjukkan bahwa pentingnya shalat dalam Islam. Harusnya ini sudah cukup sebagai motivasi bagi kita, kaum Muslimin untuk selalu bersemangat dalam melaksanakan shalat.
Terlebih jika kita memperhatikan berbagai keitimewaan shalat, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk bermalas-malasan dalam melaksanakan/menegakkannya.
Berikut kami hadirkan beberapa keistimewaan tersebut, diantaranya :
1). Shalat itu bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadath-ibadah yang lain). dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan."
[Al-Ankabût (29) : 45]
2). Shalat merupakan amalan terbaik setelah dua kalimat syahadat.
Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan :
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ : الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا. قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ : الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ.
"Aku pernah bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :“Apakah amalan yang paling afdhal (terbaik)?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab :“Shalat pada waktunya.”
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu mengatakan : “Lalu aku bertanya lagi, “Lalu apa?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : “Berbakti kepada kedua orang tua.”
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu mengatakan lagi : “Lalu aku bertanya lagi, “Lalu apa?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : “Jihad di jalan Allâh."[2]
3). Shalat bisa membersihkan dosa-dosa.
Dari Jâbir Radhiyallahu 'Anhu , dia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ
"Shalat (fardhu) yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir melimpah di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian.
Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali."[3]
4). Shalat bisa menggugurkan dosa.
Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
"Shalat yang lima waktu, Jum'at yang satu ke Jum'at lainnya, Ramadhan yang satu ke Ramadhan lainnya, itu bisa menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar."[4]
5). Shalat adalah cahaya di dunia dan akhirat bagi orang yang melakukan/menegakkannya.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu 'Anhuma , diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membicarakan tentang shalat lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ
"Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Dan pada hari kiamat, orang yang tidak menjaga shalatnya itu akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf."[5]
Disebutkan dalam hadits Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu :
وَالصَّلاَةُ نُورٌ
Shalat itu adalah cahaya.[6]
Juga dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِى الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap, bahwa ia akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat."[7]
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Insyaa Allah Bersambung!
Semoga kita termasuk orang Islam yang Beriman, sehingga tidak merasa punya rasa malas untuk menegakkan shalat.
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.🤲🏻🤲🏻
Dasar² Dalil Pentingnya Shalat :
_______
[1] Diterjemahkan Shalâtul Mu’min, Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Abi Wahf al-Qahthani
[2] HR. Al-Bukhâri no. 7534 dan Muslim no. 85
[3] HR. Muslim, no. 668
[4] HR. Muslim no. 233
[5] HR. Ahmad dalam kitab al-Musnad, 2/169 dan ad-Darimi, 2/301. Imam al-Mundziri dalam kitab at-Targhib wat Tarhib, 1/440 mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang jayyid.”
[6] HR. Muslim no. 223
[7] HR. Abu Daud, no. 561 dan at-Tirmidzi, no. 223. Hadits ini dihukumi sebagai hadits shahih oleh syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashâbîh karena memiliki banyak syawahid, 1/224
__"Sie Dakwah"_
Ustadz Abah Dini
01 September 2026
Syekh Ibnu Mazah Al-Hanafi dalam kitab Al-Muhith al-Burhani. Beliau menuliskan:
وَمِنَ ٱلْأَدَبِ أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ فِيهِ بِكَلَامِ ٱلنَّاسِ
Artinya : “Dan sebagian dari adab wudhu adalah tidak berbicara.” (Syekh Ibnu Mazah Al-Hanafi, Al-Muhith al-Burhani[Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 2004], juz I, hlm. 48).
Pandangan Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab juga menjelaskan sunnah wudhu, salah satunya menjaga keutamaannya dengan tidak berbicara.
وَأَنْ لَا يَتَكَلَّمَ فِيهِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ
Artinya : “Dan agar tidak berbicara di dalam wudhu kecuali jika ada kebutuhan.” (Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab [Jeddah, Maktabah Al-Irsyad: t.t], juz I, hlm. 489).
Kisah tentang bagaimana perasaan ketakutan melaksanakan sholatnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Ketika waktu sholat tiba wajah Sayyidina Ali berubah, tubuhnya gemetar. Ketika seseorang menanyakan sebabnya. Jawabnya, "Kini saatnya menunaikan amanat yang langit, bumi dan gunung-gunung tidak sanggup memikulnya. Aku tidak tahu, apakah aku mampu menunaikan amanat ini atau tidak."
Diriwayatkan, Sayyidina Hasan RA berwudhu wajahnya akan berubah pucat. Ketika seseorang bertanya kepadanya, "Mengapa wajahmu berubah pucat?"
Ia menjawab, "Kini saatnya untuk bertemu Raja Yang Mahaperkasa."
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga bermanfaat, mungkin selama ini saat berwudhu masih banyak yg sambil bicara, dengan pengertian ilmu tersebut, Insyaa Allah kita menjadi faham dan bisa khusuk tatkala menjalankan ibadah shalat.
Tetap semangat dan istiqamah dalam IBADAH Insyaa Allah hidup kita selalu mendapat Ridha dan BERKAH!
Ustadz Abah Dini
31 Agustus 2026
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 128, yang berbunyi :
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman."
Kandungan dan Sifat Utama dalam Tafsir
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Jalaluddin Al-Mahalli merinci ada lima sifat utama Rasulullah SAW dalam ayat tersebut :
1. Sifat beliau sangat faham dikatakan bahwa Rasulullah Saw adalah dari kaummu sendiri (Min anfusikum).
Artinya bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah berasal dari bangsa dan golongan manusia yang sama (bangsa Arab), bukan dari malaikat atau jin. Hal ini membuat beliau sangat memahami realitas, bahasa, dan kondisi sosial kaumnya.
2. Sifat beliau tidak tegaan(mentonan jw) berat merasakan penderitaan (‘Azīzun ‘alaihi mā ‘anittum).
Segala kesusahan, penderitaan, dan kesulitan yang menimpa umatnya dirasakan sebagai beban yang berat pula oleh Nabi Saw.
Beliau tidak senang jika umatnya berada dalam kesusahan.
3. Sifat beliau sangat menginginkan keimanan/keselamatan (Ḥarīshun ‘alaikum).
Beliau memiliki ambisi/keinginan dan semangat yang luar biasa agar umatnya senantiasa mendapatkan hidayah, keselamatan dunia, serta kebahagiaan di akhirat.
4. Sifat beliau penyantun (Ra'ūf).
Beliau memiliki kelembutan hati yang luar biasa dan belas kasihan yang tinggi kepada orang-orang beriman.
5. Penyayang (Raḥīm).
Beliau senantiasa mencurahkan kasih sayang dan menginginkan kebaikan yang terus-menerus bagi pengikutnya.
Itulah sifat² Nabi Muhammad Saw. di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 128 diatas, sehingga pantas bahwa beliau tidak sekedar sebagai utusan Allah Ta'ala yang sanggup mengemban amanah (pemimpin umat).
Sehingga beliau benar² bisa menjadi teladan yang patut diteladani.
Allah Ta'ala menjelaskan pula di ayat yang lain, yaitu Surat Al-Ahzab : 33, yang berbunyi :
لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga kita yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad Saw. bisa meneladani, sehingga kita bisa menjadi orang yang dicintai Allah Ta'ala.
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.
Ustadz Abah Dini
29 Agustus 2026
Di dalam ajaran Islam, seorang pemimpin harus memiliki moral, akhlaq, dan kemampuan yang mumpuni.
Seorang pemimpin harus bisa bersikap adil, jujur, dan tidak semena-mena. Pemimpin tidak boleh mencelakai rakyat dan bangsanya. Pemimpin tidak boleh zalim.
Apa itu Moral & Apa itu Akhlaq?
Moral adalah ajaran atau nilai tentang baik buruk yang diterima umum berdasarkan kesepakatan sosial dan kebiasaan dalam suatu masyarakat.
Sedangkan akhlaq adalah sifat atau perangai yang tertanam dalam jiwa manusia yang bersumber dari ajaran agama (Al-Qur'an dan Hadits).
Dua hal tersebut (Moral dan Akhlaq) seakan sama, yaitu : Sama² keduanya mengatur tentang perbuatan baik dan buruk dalam sikap kehidupan manusia.
Akan tetapi terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya, yaitu
Moral bisa dilihat dari :
1. Sumbernya yaitu : Adat istiadat, tradisi, norma sosial, atau kesepakatan kelompok masyarakat tertentu.
2. Sifatnya yaitu : Dinamis dan bisa berubah tergantung pada tempat, budaya, dan perkembangan zaman.
3. Lingkupnya yaitu : Bersifat lahiriah, terlihat dari perbuatan dan tingkah laku sehari-hari yang dinilai pantas atau tidak oleh kelompok sosial.
Contoh : Mengucapkan salam atau minta izin saat lewat di depan orang yang lebih tua sesuai adat suatu daerah.
Akhlaq juga bisa kita lihat :
1. Sumbernya yaitu : Nilai-nilai mutlak dari Allah SWT, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah/Hadis.
2. Sifatnya yaitu : Universal, tetap, dan abadi tidak lekang oleh perubahan zaman.
3. Lingkupnya yaitu : Bersifat batiniah (akar yang tertanam di jiwa) yang kemudian tercermin dalam perbuatan, mencakup hubungan sesama manusia, alam, dan kepada Tuhan (Allah Ta'ala).
Contoh : "Jujur (siddiq), amanah, dan sabar yang dilakukan karena ketaatan beragama."
Dengan demikian maka seorang Pemimpin tidak boleh berbuat dzalim pada rakyatnya.
Allah Ta'ala mengingatkan di kutab-Nya, sebagaimana bunyinya ayat :
اِنَّمَا السَّبِيۡلُ عَلَى الَّذِيۡنَ يَظۡلِمُوۡنَ النَّاسَ وَ يَبۡغُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّؕ اُولٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ
”Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
(QS. Asysyura : 42).
Terkait dengan ayat diatas Rasûlullâh shallallahu alaihi wa sallamﷺ bersabda :
اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ
“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga”.
(HR. Tirmidzi, Nasai dan Al Hakim).
Hakekat seorang pemimpin adalah abdi atau pelayan bagi anggota kelompoknya (rakyatnya), baik pemimpin perusahaan, masyarakat, keluarga, maupun negara.
Dalam sebuah ungkapan dikatakan : ”Sayyid al-Qawm khaadimuhu.” (Pemimpin sebuah kaum adalah pelayan bagi kaumnya).
Oleh karena itu, mereka tidak boleh melakukan kedzaliman pada orang-orang yang dipimpinnya. Semua kebijakan yang dibuatnya harus mengacu pada kepentingan yang dipimpinnya.
Jika pemimpin di negeri Indonesia yang sudah ngeri seperti saat ini benar² Bermoral & Berakhlaq, maka jalannya kehidupan akan bisa damai, tentram, tidak ada protes dan demonstrasi dari rakyatnya.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Tetaplah masih Husnudzan (kepada pemimpin di negeri ini) Insyaa Allah... Allah masih berkenan memberi hidayah kepada pemimpin negeri Indonesia yang sudah ngeri ini.
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْر
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung."
🤲🏻🤲🏻Aamiin Yaa Rabbal'alamiin 🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
28 Agustus 2026
Allah Ta'ala berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ۩ ٧٧
"Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung." (QS. Al-Hajj · Ayat 77)
Masih ada waktu, mari kita manfaatkan waktu jelang fajar, walau hanya dua rakaat shalat sunah tahajud, Insyaa Allah bisa menjadi lantaran do'a dan harapan kita terwujud!
Kepada Allah Ta'ala sajalah kita berserah diri :
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung."
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
27 Agustus 2026
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Fajr Ayat 27-30, yang berbunyi :
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
Mengapa Allah Ta'ala memanggil :
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
Yaa ayyatuhannafsul Muthmainnah?
"Wahai jiwa yang tenang?"
Hal itu merupakan sebagai bentuk sambutan dan penghormatan penuh kasih sayang kepada hamba yang beriman saat sakratul maut atau hari kiamat.
Berikut Alasan dan Makna di balik panggilan tersebut :
A). Makna "Jiwa yang Tenang" (An-Nafsu Al-Muthmainnah), karena :
1. Beriman dan Taat.
Yaitu : "Jiwa yang meyakini bahwa Allah Ta'ala sebagai Tuhan, serta tunduk dan taat menjalankan perintah-Nya."
2. Tenang dengan Dzikir.
Yaitu : Hati yang tenteram karena selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan.
3. Ridha dengan Takdir.
Yaitu : Mampu menerima segala ketetapan dan takdir Allah dengan lapang dada, tidak sombong saat senang, dan tidak putus asa saat diuji.
B). Kemudian Alasan Allah Memanggilnya Menyambut Kembali dengan Ridha :
1. Allah Ta'ala memanggil hamba tersebut untuk pulang kepada-Nya dalam keadaan ridha (puas dengan pahala Allah) dan diridhai (mendapat ridanya Allah).
2. Menghilangkan Ketakutan.
Panggilan tersebut adalah "Sapaan lembut untuk menenangkan hamba agar tidak merasa takut atau khawatir menghadapi kehidupan setelah mati."
3. Memuliakan ke Surga.
Setelah panggilan tersebut, Allah menyuruh hamba itu masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang saleh dan masuk ke dalam surga-Ku.
Jiwa-jiwa yang ketika lahir suci, bersih tak bernoda, kini mulai tampak kotor penuh noda dan dosa. Kondisi ini terus berlanjut sepanjang hayat, hingga ajal menjemput kita.
Hanya ada dua kemungkinan : "Apakah sepanjang hayat, sejak usia baligh hingga ajal menjemput, kita isi dan penuhi hari-hari kehidupan kita dengan aktivitas positif (amal shaleh) ataukah justru sebaliknya, kita mengisi dan memenuhi hari-hari kehidupan kita dengan aktivitas negatif, perilaku buruk dan perbuatan jahat?
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga menginspirasi kehidupan kita, menuju akhir hayat yang Husnul Khatimah.
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
"Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong."
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
20 Agustus 2026
Jika hidup hanya mengejar dunia dan melupakan akhirat, maka akan membuat hati terasa hampa, selalu merasa kurang dan merugi.
Padahal dunia hanya bersifat sementara bahkan ibarat setetes air di samudra, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran :
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ...
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak-anak..."
(QS. Al-Hadid [57]: 20).
Di ayat yang lain Allah Ta'ala juga berfirman :
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan hiburan belaka. Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?"
(QS. Al-An'am [6]: 32)
Kemudian Apa Akibat Mengejar Dunia Lupa Akhirat?
Akibatnya adalah :
1. Hati tidak Tenang.
Karena selalu merasa cemas dan haus akan harta atau jabatan tanpa ada rasa puas.
Orang yang selalu cemas berlebihan dapat mengalami gangguan fisik seperti : "Jantung berdebar, otot kaku, dan sulit tidur, serta gangguan mental berupa kesulitan fokus, overthinking, dan peningkatan risiko depresi."
2. Lalai akan Kewajiban.
Yaitu meninggalkan shalat dan amal shaleh karena sibuk bekerja atau bersenang-senang.
Padahal hakekat manusia diciptakan oleh Allah Ta'ala di dunia ini hanyalah agar supaya beribadah.
Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran surah Az Zariyat ayat 56, yang berbunyi :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Di ayat yang lain, Allah Ta'ala perintahkan kepada manusia :
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthâ (shalat Ashar). Dan berdirilah untuk Allâh (dalam shalatmu) dengan khusyu." [Al-Baqarah/2: 238]
3. Jauh dari Berkah.
Kehilangan arah tujuan hidup yang hakiki sebagai hamba Allah.
Ciri² kehidupan jauh dari berkah adalah : "Hilangnya ketenangan batin meskipun harta atau fasilitas hidup tercukupi."
Segala pencapaian terasa hampa, waktu cepat habis tanpa kebaikan, dan diri semakin jauh dari rasa syukur serta ketaatan.
Cara Kembali ke Jalan yang Seimbang?
1. Jadikan Dunia Ladang Amal.
Cari rezeki untuk menafkahi keluarga dan niatkan sebagai ibadah.
2. Utamakan Akhirat.
Atur waktu agar urusan kerja tidak melanggar aturan agama dan kewajiban shalat.
3. Perbanyak Syukur.
Dengan cara cukupkan diri dengan apa yang ada dan rajin berbagi kepada sesama.
Jika hidup banyak bersyukur adalah kunci utama untuk meraih ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan penambahan nikmat dari Tuhan.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
(QS. Ibrahim : 7).
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga dengan nasihat tersebut, kita menjadi orang yang cerdas dan faham akan arti sebuah kehidupan seorang Muslim.
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir.
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung."
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.
________
Jangan tinggalkan jama'ah shalat shubuh di masjid, aga hidup kita tidak dipersulit!💪🏽💪🏽
Bersyukur kepada Allah Ta'ala, dengan ucapan do'a :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَعَافَانِي فِي جَسَدِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ
“Segala puji bagi Allah yang mengembalikan ruhku, menyehatkan tubuhku, dan memperkenankan aku untuk mengingat-Nya.”
(HR. Tirmidzi dan Nasa'i)
Ustadz Abah Dini
13 Agustus 2026
Rasulullah Saw bersabda :
اِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
"Dari Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Kemudian ada seorang sahabat yang bertanya, “Bagaimana maksud amanat disia-siakan ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)
Nampaknya Hadits Nabi Saw tersebut sudah terasa di negeri KONAHA.
Situasi di mana kepemimpinan bangsa nampak sudah tidak sesuai lagi dipegang oleh orang yang ahli di bidangnya.
Sangat terasa sekali akan menjadi tantangan besar bagi masa depan bangsa.
Dalam ilmu politik, kondisi ini sering kali memicu lahirnya kakistokrasi, yaitu sistem pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang yang paling tidak kompeten atau tidak berkualifikasi.
Kompetensi sudah diabaikan, sehingga dampaknya sudah dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Gelambang demo sudah ada di mana², perekonomian sudah mencekik masyarakat, harga barang apa² naik dan pajak sudah juga mencekik masyarakat, bahkan korupsi merajalela di segala lini.
Kepercayaan terhadap pemimpin sudah tidak ada, kecuali oligarki² dan para penjilat kekuasaan.
Diantara Dampak Nyata pada Kehidupan Bernegara Saat Ini :
1. Kebijakan yang Membingungkan.
Aturan yang dibuat sering kali tumpang-tindih, tidak logis, dan tidak menyelesaikan masalah utama rakyat karena dibuat tanpa kajian ilmu yang mendalam.
2. Ekonomi yang Tertekan.
Salah urus (mismanajemen) anggaran dan sumber daya alam dapat memicu kenaikan harga barang, sulitnya lapangan kerja, dan pembengkakan utang negara.
3. Hukum yang Tebang Pilih.
Tanpa pemimpin yang paham esensi keadilan, penegakan hukum rawan intervensi dan cenderung tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
4. Suburnya Korupsi.
Jabatan yang diraih bukan karena keahlian biasanya didapat lewat jalan pintas (nepotisme atau politik uang), yang memicu keinginan untuk mengembalikan "modal" tersebut.
Apakah benar² akan menjadi tanda kehancuran di negeri KONAHA ini?
Nampaknya juga sudah cocok dengan firman Allah Ta'ala yang tertera di dalam Al-Quran Surat Al-Isra Ayat 16, yang berbunyi :
وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَٰهَا تَدْمِيرًا
Artinya : Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir.
Sebagai rakyat dan Insan Beriman, tetaplah semangat, Istiqamah dalam IBADAH dan berdo'a dengan penuh harap, Insyaa Allah..., Allah Ta'ala masih berkenan menolong negeri KONOHA yang sudah carut marut saat ini.
🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.🤲🏻
Ustadz Abah Dini
12 Agustus 2026
وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًاۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًاۗ وَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٥
"Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata : “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah : 25)
================
"Shabar Dalam Tiga Pilar"
Dalam Islam, para ulama terutama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dan Imam Al-Ghazali membagi sabar menjadi tiga pilar utama yang mencakup seluruh aktivitas kehidupan seorang hamba. Keshabaran ini dianggap sebagai pilar kebahagiaan dan benteng keimanan.
Berikut adalah 3 pilar sabar menurut ulama :
1). Sabar dalam Ketaatan kepada Allah(Ash-Shabru 'ala Tha'atillah)
Shabar jenis ini adalah kemampuan untuk menahan diri dan konsisten dalam menjalankan perintah Allah meskipun terasa berat, melelahkan, atau membosankan. Contoh :"Sabar dalam mendirikan salat tepat waktu, sabar menahan lapar dan haus saat puasa, konsisten dalam berzikir, atau menuntut ilmu agama.
2). Shabar dalam Menjauhi Kemaksiatan (Ash-Shabru 'anill Ma'shiyah)
Shabar ini bermakna menahan diri, hawa nafsu, dan bisikan syetan untuk tidak terjatuh ke dalam perbuatan dosa atau hal-hal yang diharamkan. Ini dianggap ujian yang cukup berat di tengah godaan duniawi.
3). Sabar dalam Menghadapi Takdir/Musibah (Ash-Shabru 'ala al-Bala')
Shabar ketiga adalah tabah menerima takdir pahit dari Allah tanpa mengeluh, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak putus asa saat diuji dengan kehilangan, kesedihan, atau bencana.
Pandangan Dua Ulama Besar :
1). Imam Al-Ghazali. Menambahkan dimensi shabar dalam menahan diri dari hal-hal yang tidak berguna dan berlebihan di dunia.
2). Ali bin Abi Thalib Menyederhanakan konsep shabar menjadi dua:
1). Shabar atas sesuatu yang tidak diinginkan (musibah/taat).
2). Shabar menahan diri dari sesuatu yang diinginkan (maksiat/syahwat).
Ketiga shabar ini adalah satu kesatuan untuk menjaga istiqomah seorang mukmin.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga kita mampu berusaha untuk selalu bisa bershabar di dalam hal² yang merusak Iman & kemaksiatan.
Ustadz Abah Dini
10 Agustus 2026
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنهُ سمعتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقولُ:
«أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ».
Abu Hurairah Radiyallāhu 'Anhu- meriwayatkan, Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
"Ketahuilah bahwa dunia itu terlaknat, terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah Ta'ala dan apa yang mengikutinya, serta orang yang alim dan yang menuntut ilmu."
[Hasan] - [HR. Tirmizi dan Ibnu Majah] - [Sunan At-Tirmiżī - 2322]
Hadits mengabarkan bahwa dunia dan semua isinya dibenci, dicela, ditinggalkan, dan dijauhkan oleh Allah.
Demikian pula semua yang ada di dalamnya ditinggalkan dan tidak terpuji, karena dunia dan semua isinya menyibukkan manusia dan sehingga manusia menjauhkan dari Allah Ta'ala.
Dikecualikan : "Dzikir kepada Allah dan semua yang mendekatinya atau semisalnya yang dicintai oleh Allah, atau orang memiliki ilmu syariat yang diajarkannya kepada manusia atau orang yang mempelajarinya.
Ibnu Taimiyah berkata : "Kenikmatan dunia yang dicela adalah perkara haram yang tidak dibenarkan, atau perkara halal yang dilakukan dengan bermegah-megah dan bermewah-mewah serta yang dimiliki dengan tujuan berbangga dan menyombongkan diri. Itulah yang dibenci oleh orang yang berakal."
Perlu kiranya kita merenungkan hadits tersebut diatas dengan seksama, di golongan manakah diri kita berada, apakah kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan terjauh dari laknat ataukah sebaliknya diri kita justru termasuk orang-orang yang mendapat laknat, menjadi budak dunia dikarenakan sebagian besar aktivitas kita atau bahkan seluruhnya hanya bertujuan untuk meraih kenikmatan dunia yang fana ini.?
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam "sangat mencela orang-orang yang tunduk pada dunia dan semata-mata tujuannya adalah _"mencari dunia semata."
Kemudian beliau bersabda :
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ
“Celakalah budak dinar (uang emas), celakalah budak dirham (uang perak), celakalah budak khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah budak khamilah (ranjang yang empuk).”
(HR. Bukhari)
Hadits tersebut merupakan celaan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada orang yang kesehariannya menjadi budak harta dan berbagai kesenangan dunia.
Mari kita enungkan dengan penuh kejujuran dan jawablah di golongan manakah diri kita berada?
Apakah kita termasuk orang yang menjadi budak dunia ataukah orang yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah?
Wallahu A'lam Bish-shawwab
Semoga bermanfaat dan menjadi renungan/muhasabah dalam kehidupan kita, sehingga kita mampu menjadi orang yang selalu mau : Berdzikir, mencari ilmu dan mengajarkan ilmu kepada diri kita/ orang lain!
________
Selamat menunaikan Ibadah Sunah Istimewa (TAHAJUD) perbanyak Istighfar, Dzikir dan Do'a, Insyaa Allah bisa menjadi orang mulia di sisi Allah Ta'ala!🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
10 Agustus 2026
Waktu hidup di dunia adalah satu-satunya kesempatan emas untuk menabung pahala.
Ketika ajal menjemput, pintu amal tertutup rapat dan yang tertinggal hanyalah penyesalan mendalam karena tidak sempat memperbanyak sedekah serta amal shaleh.
Maka jangan suka menunda, selagi masih ada kesempatan biar tidak menyesal di kemudian hari.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Munafiqun : 10, yang berbunyi :
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu.
فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ﴿۱۰﴾
Dia lalu berkata (sambil menyesal), :
“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang shaleh.”
Itulah ayat yang menerangkan sebuah penyesalan yang Telat.
_Orang yang hampir mati (sakaratul maut) atau di akhirat memohon agar dihidupkan kembali ke dunia walau sebentar, bukan untuk shalat atau haji, melainkan secara khusus meminta bisa bersedekah.
Penyesalan yang tak berguna, karena kesempatan sudah tidak ada.
Selanjutnya Allah Ta'ala menjelaskan, kita baca ayatnya dalam Al-Munafiqun : 11, yang berbunyi :
وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ ﴿۱۱﴾
"Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Hakekat manusia banyak yang berdusta, jauh dari kata² yang merasa tidak diketahui oleh siapa².
Padahal Allah Ta'ala Maha Tahu lagi Teliti terhadap apa yang manusia jalani di dalam hidup ini.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga dua ayat tadi selalu mengingatkan kita, sehingga tidak mudah terlena dengan waktu yang diterima.
"Gunakan kesempatan, sebelum datang kesempitan!
HASBUNALLAH WA NI'MAL WAKIL, NI'MAL MAULA WA NI'MANNASIR
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.
Ustadz Abah Dini
09 Agustus 2026
Menurut Ibnul Qayyim, yang dikatakan kehidupan sejati adalah : "Kehidupan hati yang dekat dengan Allah Ta'ala."
Jika waktu yang dihabiskan dalam ketaqwaan dan kebaikan, maka akan menjadi hakikat dari umur seseorang.
Apa itu Hakekat?
Hakikat adalah : "Intisari, dasar, atau kenyataan yang sebenarnya dan sesungguhnya dari segala sesuatu."
Sedangkan yang namanya kebaikan tidak hanya memperpanjang umur, tetapi juga memberikan keberkahan.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
فَالْحَيَاةُ فِي الْحَقِيقَةِ حَيَاةُ الْقَلْبِ،
"Hakikat kehidupan sejati adalah kehidupan hati."
وَعُمُرُ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ
"Umur manusia pada hakikatnya adalah masa hidup hatinya."
فَلَيْسَ عُمُرُهُ إِلَّا أَوْقَاتَ حَيَاتِهِ بِاللَّهِ،
"Tidak ada umur yang sebenarnya kecuali waktu-waktu yang ia jalani bersama Allah."
فَتِلْكَ سَاعَاتُ عُمُرِهِ،
"Itulah jam-jam kehidupannya yang sejati."
فَالْبِرُّ وَالتَّقْوَى وَالطَّاعَةُ تَزِيدُ فِي هَذِهِ الْأَوْقَاتِ الَّتِي هِيَ حَقِيقَةُ عُمُرِهِ،
"Kebaikan, ketaqwaan, dan keta'atan menambah waktu-waktu ini, yang merupakan hakikat umur seseorang."
وَلَا عُمُرَ لَهُ سِوَاهَا.
"Selain itu, tidak ada umur lain baginya selain waktu-waktu tersebut."
Dengan kata lain, jika waktu hidup tidak untuk hal² tersebut, orang hidup itu tidak ada gunanya.
وَسِرُّ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ عُمُرَ الْإِنْسَانِ مُدَّةُ حَيَّاتِهِ وَلَا حَيَاةَ لَهُ إِلَّا بِإِقْبَالِهِ عَلَى رَبِّهِ، وَالتَّنَعُّمِ بِحُبِّهِ وَذِكْرِهِ، وَإِيثَارِ مَرْضَاتِهِ.
"Inti dari permasalahan ini adalah bahwa umur manusia sejatinya adalah masa hidupnya, dan tidak ada kehidupan yang sebenarnya kecuali dengan mendekat kepada Rabb-nya, menikmati cinta dan zikir kepada-Nya, serta mengutamakan keridaan-Nya." (Sumber dari Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa‘, hlm. 87-88)
Selain memahami hakikat umur, kita juga diajarkan untuk memohon kepada Allah agar diberi umur yang panjang dan penuh keberkahan.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Dengan hakekat umur yang dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah diatas, bisa menginspirasi kehidupan kita lebih bermanfaat menuju BERKAH di sisi Allah Ta'ala.
Ustadz Abah Dini
07 Agustus 2026
Sepertiga (1/3) akhir malam adalah waktu yang paling utama, sakral, dan penuh berkah untuk berkomunikasi langsung dengan Allah Ta'ala melalui shalat malam (Tahajud) dan Do'a.
KEUTAMAAN
Dalam Hadits dijelaskan Rasulullah Saw. bersabda :
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ
Pada waktu ini, Allah Ta'ala "turun" ke langit dunia untuk mengabulkan hajat hamba-Nya : "Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir.
يَقُولُ :
Kemudian Allah berfirman :
مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
"Siapa yang berdo'a kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.
مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ،
Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri.
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni."*
(HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808).
Amalan Utama Untuk Menyambut Allah Ta'ala di 1/3 Akhir Malam Antara Lain :
1. Shalat Tahajud.
Shalat sunnah yang didirikan setelah bangun tidur, menjadi sarana curhat terbaik kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman :
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra : 79)
2. Istighfar (Memohon Ampun).
Waktu terbaik untuk bertobat, sebagaimana pujian Allah bagi orang yang beristighfar di waktu sahur.
Di dalam Al-Quran Surat Ali 'Imran : 17, yang berbunyi :
اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ ١٧
"(Juga) orang-orang yang sabar, benar, taat, dan berinfak, serta memohon ampunan pada akhir malam."
3. Membaca Al-Qur'an.
Menghidupkan malam dengan mentadaburi ayat-ayat-Nya saat suasana hening dan tenang.
4. Do'a Khusus.
Menyampaikan segala hajat hidup, kecemasan, dan harapan karena pintu langit sedang terbuka lebar.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir.
Ustadz Abah Dini
06 Agustus 2026
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 77, yang berbunyi :
وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا وَاَحۡسِنۡ كَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰهُ اِلَيۡكَ وَلَا تَبۡغِ الۡـفَسَادَ فِى الۡاَرۡضِؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُفۡسِدِيۡنَ (٧٧)
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
Mencari kebahagiaan akhirat berarti menjadikan dunia sebagai ladang amal dengan menyeimbangkan ibadah kepada Allah SWT dan tanggung jawab hidup.
Sesuai pesan Surah Al-Qashash ayat 77, kita manusia diperintahkan untuk mengutamakan akhirat tanpa melupakan bagian nikmat duniawi secara benar.
Cara Utama Meraih Kebahagiaan Akhirat Ialah :
1. Tingkatkan Taqwa.
Jalankan perintah Allah dan jauhi larangan-Nya dengan konsisten.
2. Perbanyak Amal Shaleh.
Gunakan harta dan tenaga di dunia untuk kebaikan serta sedekah.
3. Tuntut Ilmu Agama.
Pahami ajaran Islam yang benar agar ibadah memiliki landasan kuat.
4. Sabar dan Bersyukur.
Hadapi ujian hidup dengan tabah dan syukuri setiap nikmat.
Kemudian Cara Mengseimbangkan Hidup :
1. Jadikan aktivitas kehidupan dunia sebagai sarana pendukung ibadah, bukan tujuan akhir.
2. Berbuat baiklah kepada sesama manusia dan jaga lingkungan bumi dari kerusakan.
Agar apa yang di firmankan Allah Ta'ala di Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 77, diatas dapat kita amalkan, mari kita mengamalkan do'a :
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka."
(QS. Al-Baqarah : 201)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku."
(QS. Ibrahim : 40)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga Allah Ta'ala mengabulkan do'a dan harapan kita semua!
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir.
Ustadz Abah Dini
05 Agustus 2026
Saat menghadapi sakaratul maut, ada orang yang berdo'a :
رَبِّ لَوۡلَاۤ اَخَّرۡتَنِىۡۤ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيۡبٍۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنۡ مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ
"Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shaleh."
Ayat tersebut berisi gambaran orang yang meminta waktu tambahan hidup hanya untuk bersedekah dan keinginan menjadi orang shaleh saat maut menjemput.
Sungguh penyesalan yang tidak ada gunanya, karena waktu adalah mutlak sebagai ketetapan Allah Ta'ala sebagai jatah hidup manusia.
Kemudian Allah Ta'ala menjawab kepastian waktu sebagai jatah kehidupan, sebagaimana bunyinya ayat selanjutnya :
وَلَنۡ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفۡسًا اِذَا جَآءَ اَجَلُهَاؕ وَاللّٰهُ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ.
"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Itulah gambaran kepastian ajal manusia.
Waktu kematian bersifat mutlak dan tidak bisa diundur walau sesaat.
Oleh karena itu, mari kita manfaatkan waktu hidup kita untuk selalu beramal shaleh.
Jika diberi kesempatan punya harta banyak/sedikit, bersegera untuk berinfaq dan jika diberi kesempatan untuk hidup, jangan menunda untuk beramal shaleh!
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga dengan dua ayat diatas, bisa mengingatkan kita untuk bersegera berbuat kebaikan.
Insyaa Allah saat sakaratul maut, kita bisa Husnul Khatimah.
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir.
Ustadz Abah Dini
03 Agustus 2026
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 45, yang berbunyi :
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
"Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
Ayat tersebut menjadi panduan utama bagi umat Islam dalam menghadapi setiap ujian dan beban kehidupan.
Intinya menegaskan bahwa Allah beserta orang-orang yang shabar.
Makna Shabar sebagai Penolong Dalam Kehidupan :
1). Menahan diri : Mengendalikan emosi, lisan, dan perbuatan agar tidak berkeluh kesah secara berlebihan saat menghadapi musibah.
2). Ketaatan Yang Istiqomah :
Kuat dan konsisten menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya meski terasa berat.
3). Menerima takdir :
Berlapang dada atas segala ketetapan Allah dengan keyakinan ada hikmah terbaik di baliknya.
Itulah makna shabar dan shalat sebagai penolong kehidupan.
Kemudian Peran Shalat sebagai Penolong Dalam Kehidupan :
1). Hubungan dengan Allah, Karena shalat menjadi sarana komunikasi paling dekat antara hamba dan Sang Pencipta untuk mengadu.
Di samping itu pula, shalat menjadi sarana komunikasi vertikal yang utama dan langsung antara seorang hamba dengan Allah Ta'ala, tanpa perantara.
2). Pemberi Ketenangan,
Mengistirahatkan hati dan pikiran dari penatnya masalah dunia dengan mengingat Allah (dzikir).
Setiap gerakan dan bacaan shalat merupakan bentuk dialog dengan Allah Ta'ala.
Sehingga dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Ar-Ra'd ayat 28, bunyinya :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
3). Pencegah Keburukan.
Dengan shalat, orang akan bisa menjaga diri dari perbuatan yang melanggar aturan agama sehingga hidup lebih terarah.
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya kepada-Nya mereka kembali."
(QS. Al-Baqarah : 45-46)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga kita istiqomah untuk selalu bersikap Sabar dan senantiasa tetap mengerjakan sholat sebagai wasilah atas pertolongan dari Allah dalam menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan.
Tetap semangat, karena hidup sebenarnya hanyalah sesaat, yang langgeng kelak di akhirat, Insyaa Allah kita termasuk orang yang selamat dan bisa hidup terasa nikmat!
Ustadz Abah Dini
02 Agustus 2026
Muhasabah berasal dari kata hasaba : "Menghitung, menilai, dan mengoreksi diri."
Dalam Islam, muhasabah menjadi kunci untuk "memperbaiki akhlak, memperkuat iman, dan mempersiapkan diri menuju akhirat."
Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr (59):18, yang berbunyi :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Ayat diatas menunjukkan bahwa muhasabah bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perintah untuk selalu menilai diri agar hidup kita tetap di jalan yang benar.
Pentingnya Muhasabah Akhir Tahun.
Akhir tahun selalu membawa rasa yang berbeda.
Di tengah kesibukan menutup pekerjaan, memenuhi target, atau sekadar ingin cepat beristirahat, ada satu momen yang sering luput : "Kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan hidup kita selama dua belas bulan terakhir. Bukan untuk menyesali apa yang belum tercapai, tetapi untuk memahami bagaimana kita telah menjalani hidup sebagai seorang hamba."
ADAPUN YANG PERLU KITA EVALUASI :
1). Evaluasi Ibadah dan Kedekatan kepada Allah.
Periksa apakah shalatmu semakin baik, apakah waktu ibadah semakin konsisten, dan apakah zikir serta do'a semakin menghadirkan ketenangan hati.
2). Tinjau Hubungan dengan Sesama (Hablum Minannas)
Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan?
Sudahkah kita memaafkan?
Perbaikan hubungan sosial adalah bagian dari ibadah yang sangat besar pahalanya.
3). Menilai Pengelolaan Waktu dan Rezeki
Apakah kita menggunakan waktu secara produktif?
Apakah harta yang digunakan halal dan bermanfaat? Muhasabah akhir tahun adalah momen terbaik untuk memastikan rezeki yang kita miliki bersih, termasuk dengan menunaikan zakat dan sedekah.
4. Membuat Resolusi Spiritual.
Buat target ibadah yang realistis : Memperbanyak sedekah, menjaga shalat tepat waktu, mengurangi maksiat, atau memperbanyak tilawah.
Resolusi yang berfokus pada akhirat jauh lebih bernilai dan memberi ketenangan.
Agar muhasabah lebih sempurna, lakukan beberapa amalan berikut :
1). Memperbanyak Istighfar
Istighfar membersihkan hati dan membuka pintu keberkahan.
2). Sedekah dan Zakat.
Amalan ini melengkapi refleksi diri dengan tindakan nyata untuk membersihkan harta dan menolong sesama.
3). Membaca Qur’an dan Berdo'a.
Do'a menjadi kekuatan utama agar perbaikan diri dapat dijalankan dengan istiqamah.
4. Shalat Malam/Tahajud.
Tahajud adalah momen terbaik untuk mengadu dan meminta pertolongan kepada Allah.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga kita bisa istiqamah dan selalu bisa bermuhasabah, sebelum dimuhasabahi orang lain.
Tetap semangat, karena hidup sebenarnya hanyalah sesaat, yang langgeng kelak di akhirat, Insyaa Allah kita termasuk orang yang selamat dan bisa hidup terasa nikmat!
Ustadz Abah Dini
01 Agustus 2026
Dikisahkan bahwa suatu hari, Ibrahim bin Adham melewati pasar di kota Bashrah.
Maka datanglah orang-orang kepadanya dan bertanya :
يَا أَبَا إِسْحَاقَ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ، فَنَحْنُ نَدْعُوهُ مُنْذُ زَمَانٍ طَوِيلٍ فَلَا يُسْتَجَابُ لَنَا، فَمَا السَّبَبُ؟
“Wahai Abu Ishaq, Allah Ta’ala berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian’
(QS. Ghafir: 60), Kami telah lama berdoa kepada-Nya, namun doa-doa kami tidak dikabulkan. Apa sebabnya?”
Lalu beliau (Ibrahim bin Adham) menjawab dengan penuh hikmah :
لِأَنَّ قُلُوبَكُمْ مَاتَتْ بِعَشْرَةِ أَشْيَاءَ
“Karena hati kalian telah mati oleh sepuluh perkara.”
Diantara 10 Penyebab Do'a Tidak Dikabulkan, antara lain :
عَرَفْتُمُ اللهَ وَلَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ
1) "Kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-Nya."
Kita tahu Allah Ta'ala adalah Tuhan yang Maha Esa, namun tidak menunaikan hak-Nya berupa tauhid, ketaatan, dan rasa takut serta cinta kepada-Nya.
وَقَرَأْتُمُ الْقُرْآنَ وَلَمْ تَعْمَلُوا بِهِ
2) "Kalian membaca Al-Qur’an, namun tidak mengamalkannya."
Al-Qur’an dibaca, dihafal, bahkan dilombakan.
Tapi isinya tidak dijadikan panduan hidup/tidak diamalkan.
وَزَعَمْتُمْ حُبَّ نَبِيِّكُمْ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهُ
3). "Kalian mengaku cinta Nabi kalian, namun meninggalkan sunnahnya."
Cinta Nabi bukan sekadar slogan, tetapi dibuktikan dengan mengikuti sunnah beliau dalam ibadah, akhlak, dan seluruh aspek kehidupan.
وَقُلْتُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ وَوَافَقْتُمُوهُ
4). "Kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh, namun kalian malah menaati/mengikutinya."
Kita tahu setan menyesatkan manusia, tapi kita ikuti godaannya, menuruti hawa nafsu, dan berpaling dari jalan kebenaran.
وَقُلْتُمْ إِنَّكُمْ مُشْتَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ وَلَمْ تَعْمَلُوا لَهَا
5). "Kalian mengaku rindu surga, namun tidak beramal untuk meraihnya."
Surga tidak diraih dengan angan-angan. Harus ada amal, perjuangan, dan ketaatan.
وَقُلْتُمْ إِنَّكُمْ تَخَافُونَ النَّارَ وَلَمْ تَهْرُبُوا مِنْهَا
6). "Kalian mengaku takut neraka, namun tidak menjauhi sebab-sebabnya."
Takut neraka tapi masih lalai dari shalat, suka ghibah, malas taubat, dan banyak maksiat.
وَقُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ
7) "Kalian meyakini kematian itu pasti, namun tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya."
Padahal kematian bisa datang kapan saja, namun kita masih sibuk menumpuk dunia dan melalaikan akhirat.
وَاشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَتَرَكْتُمْ عُيُوبَكُمْ
8). "Kalian sibuk mencari-cari aib orang lain, dan melupakan aib diri sendiri."
Padahal keselamatan diri lebih utama. Namun banyak orang lupa introspeksi, malah sibuk mengomentari orang lain.
وَأَكَلْتُمْ نِعَمَ اللهِ وَلَمْ تُؤَدُّوا شُكْرَهَا
9). "Kalian menikmati nikmat Allah, namun tidak bersyukur."
Nikmat lidah, tangan, waktu, uang, kesehatan, semua digunakan untuk maksiat, bukan ketaatan.
وَدَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ
10) "Kalian menguburkan orang-orang mati, namun tidak mengambil pelajaran dari mereka."
Setiap jenazah yang dikuburkan adalah pengingat bahwa kita pun akan menyusul. Tapi hati kita tetap keras.
Hakekat hidup sebenarnya hanya menunggu dua waktu, yaitu : Waktu shalat dan Waktu mati.
Orang takut mati atau tidak takut mati, ya pasti mati.
Tatkala sudah mati, urusan sama Allah belum berhenti, justru malah berganti yang tidak bisa kita hindari, karena Allah Ta'ala akan membeberkan amal perbuatan kita.
Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".
(QS. Al-Jum'ah : 8)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Tetap semangat dan istiqamah dalam IBADAH, Insyaa Allah hati kita selalu mampu menerima hidayah, sehingga hidup kita mendapat Ridha lag Berkah!
Ustadz Abah Dini
31 Juli 2026
Disadari atau tidak, jadi pemimpin tentu dan pasti banyak ujiannya. Tidaklah mudah bagi seseorang untuk bisa memimpin jika tanpa dibekali moral, akhlak, dan kemampuan yang mumpuni.
Ada konsekwensinya jika sudah siap jadi pemimpin, karena pemimpin harus bisa bersikap adil, jujur, dan tidak semena-mena.
Pemimpin tidak boleh mencelakai rakyat dan bangsanya.
Pemimpin tidak boleh zalim.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran :
اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٤٢
"Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih."
(QS Asysyura : 42).
Terkait dengan ayat diatas, Rasulullah Saw bersabda :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا
Dari Abū Hurairah bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda : 'Barang siapa membawa pedang untuk menyerang kami, maka dia bukan dari golongan kami."
وَ مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا.
"Barang siapa yang menipu kami, bukanlah dia dari golongan kami."
(HR. Muslim no146).
Dalam riwayat lain Shahih Muslim 147, masih dari Abu Hurairah dijelaskan :
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيْهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا
Dari Abū Hurairah bahwa Rasūlullāh melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah,
فَقَالَ : مَا هذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ
Maka pun beliau bertanya :
"Apa ini wahai pemilik makanan?"
قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُوْلَ اللهِ
"Sang pemiliknya menjawab : "Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasūlullāh."
قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ
Lalu beliau bersabda :"Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya."
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّيْ.
"Barang siapa menipu maka dia bukan dari golongan kami."
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :
أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
*"Ketahuilah, bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan mereka akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu.
(HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits lain, disebutkan, yang artinya :
"Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum Muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka, dan kemiskinan mereka.
Maka Allah Ta'ala akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.”
(Diriwayatkan dari Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).
Pemimpin zalim juga telah dido'akan agar mengalami kesukaran.
Diriwayatkan dari istri Nabi, 'Aisyah Radhiallahu 'Anha, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda dalam do'a :
اللَّهُمَّ، مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ
"Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia sayang pada umatku, maka sayangilah ia."
(HR. Muslim no. 1828)
Sebagai penutup materi tersebut, kita sampaikan firman Allah Ta'ala di dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 90, Allah mengingatkan kita :
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Kemudian Hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi :
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَإِنَّ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَشَدَّهُ عَذَابًا إِمَامٌ جَائِرٌ
"Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah Ta'ala pada hari kiamat dan paling ‘dekat’ tempat duduknya dari-Nya adalah seorang pemimpin yang adil, sedangkan orang yang paling dibenci Allah pada hari kiamat dan paling keras siksanya adalah seorang pemimpin yang lalim."
(HR. Ahmad)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga materi tersebut bermanfaat untuk kita sebagai rakyat, sehingga kita berani menyuarakan lewat mimbar yang kemungkinan di dalam jama'ah ada yang jadi pejabat/pemimpin.
Insyaa Allah melalui mimbar rakyat mau bersuara dan mengkritik para pejabat/pemimpin yang zalim, negeri ini masih diselamatkan Allah Ta'ala.
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
29 Juli 2026
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-An’am Ayat 123, yang berbunyi :
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِى كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَٰبِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا۟ فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya."
Seperti halnya jaman dahulu, yang terjadi pada para pembesar orang-orang musyrik di Makkah, yang senantiasa menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Ta'ala.
Isi ayat diatas Allah Ta'ala menjelaskan dengan kalimat : "Kami juga menjadikan pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar di setiap negeri yang senantiasa berjuang serta berupaya untuk mengajak manusia ke jalan syetan dan juga memerangi para rasul beserta pengikut-pengikutnya."
Tetapi kenyataannya, bahwa upaya dan tipu daya yang mereka lakukan itu sebenarnya kembali kepada diri mereka sendiri.
Hanya saja mereka tidak merasakannya.
Hal itu karena kebodohan mereka dan kesenangan mereka memperturutkan hawa nafsu mereka.
Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil (fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia), mentadaburi firman Allah Ta'ala di dalam Al-Quran Surat Al-An'am : 123, diatas :
Mengatakan : "Sejenak kita melihat kepada keadaan alam ini, sunnah kauniyah yang menjadi ketetapan yang pasti akan diterima oleh setiap penduduk bumi, dan lihatlah bagaimana balasan yang ditimpakan kepada orang-orang yang kerap berlaku jahat."
وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya". Tetapi buruknya kejahatan membuat mereka buta akan tempat kembali mereka di akhirat, tapi sesunguhnya balasan atas kejahatan itu tidak akan terlepas :
سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
"Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya"
Di dalam ayat yang lain Allah Ta'ala juga berfirman :
يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar."
(QS. Al-Baqarah Ayat 9)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Ustadz Abah Dini
29 Juli 2026
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
"Orang cerdas adalah orang yang mengekang hawa nafsunya dan mempersiapkan perbekalan untuk kehidupan setelah mati.
وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
Sedangkan orang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah."
(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Baihaqi)
Rasulullah SAW bersabda dalam Hadits lain :
الْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
"Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah."
(HR. Ahmad)
Berdasarkan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa ciri-ciri orang yang cerdas adalah orang yang selalu bermuhasabah diri dan menyiapkan amalan berpahala sebagai bekal menghadapi kematian/hari esok (masa yang akan datang).
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Hasyr ayat 18, yang berbunyi :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٨
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Seseorang/kita bisa bermuhasabah dengan cara selalu mencari kesalahan dalam diri sendiri dan bukan orang lain.
Dengan bermuhasabah, seseorang akan selalu menyadari banyaknya kesalahan tersebut dan mau memperbaikinya.
Sebuah pesan mulia dari sahabat Nabi Saw. diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, dari Umar RA, dia berkata :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah amal perbuatan kalian sebelum semua itu dihitung atas kalian."
Muhasabah diri dapat mendatangkan banyak manfaat dan kebaikan bagi yang melakukannya.
Beberapa manfaatnya antara lain adalah selalu mendorong diri untuk berusaha memperbaiki kesalahan, menyempurnakan kekurangan, mencari kesempurnaan, serta akan menjauhkan kita dari sikap ujub, terperdaya oleh amalnya sendiri, dan mengejek orang lain.
Kemudian dari Abu Abdullah bin Qayyim Al Jauziyyah menyebut beberapa cara untuk muhasabah diri, antara lain :
1). Muhasabah Terhadap Kewajiban.
Cara pertama yang dapat dilakukan untuk muhasabah diri adalah dengan melakukan introspeksi terhadap ibadah-ibadah wajib terlebih dahulu.
Jika mendapati ada kekurangan dalam ibadah yang dilakukan semalam ini, maka harus segera diperbaiki dan dilengkapi.
2). Muhasabah Terhadap Kelalaian.
Selain muhasabah terhadap kewajiban, umat muslim juga perlu bermuhasabah diri terhadap kelalaian.
Hal ini bisa dilakukan dengan cara berzikir dan memusatkan hati, jiwa, dan pikiran kepada Allah SWT.
Kemudian, mengingat-ingat apa saja kelalaian yang sudah dilakukannya, baik yang tak disadari atau tidak sengaja.
Kemudian, perbaiki kelalaian-kelalaian tersebut dengan bertaubat dan menumpuknya dengan perbuatan yang baik.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga kita mampu berusaha bisa menjadi orang yang cerdas yang bisa selalu bermuhasabah diri, baik terhadap kewajiban dan kelupaan.
Dengan demikian, Insyaa Allah kita diakhir kehidupan bisa Husnul Khatimah!
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
28 Juli 2026
Apa Itu Pengertian Arti Cinta Dunia?
Cinta dunia adalah : "Kecenderungan mencintai kehidupan dunia lebih dari kehidupan akhirat."
Saat manusia terlalu cinta dunia, maka akan menjadi pusat segalanya hingga mengesampingkan nilai-nilai spiritual. Jika spiritual sudah dikesampingkan karena terlalu cinta dunia, maka akan menjadi ancaman bahaya besar dalam kehidupan manusia.
Cinta dunia adalah akar dari segala kesalahan dalam kehidupan.
Cinta dunia biasanya dipicu oleh nafsu, baik yang terkait dengan perut maupun hal-hal di bawah perut, yang berpotensi melahirkan berbagai bentuk maksiat dan kerusakan.
Lantas apakah itu berarti kita tidak boleh memiliki dunia? Tentu tidak!
Karena manusia hidup di dunia dan membutuhkan dunia untuk bertahan hidup.
Imam Al-Ghazali menjelaskan, bahwa tidak semua hal di dunia bersifat duniawi.
Misalkan segala sesuatu yang dilakukan manusia karena Allah Ta'ala, itu tidak dianggap duniawi.
Namun jika yang dilakukan bukan karena Allah itulah yang disebut duniawi.
Termasuk kemaksiatan dan segala sesuatu yang berlebihan dalam perkara yang diperbolehkan.
Ketika manusia terlalu mencintai dunia, ia bisa kehilangan tujuan hidup yang sebenarnya, yakni untuk beribadah kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya.
Lalu, apa saja pesan Nabi Muhammad SAW tentang cinta dunia dan bagaimana cara menghindari jebakannya?
Pesan Rasulullah dan cara menghindari jebakan cinta dunia al. :
1). Tingkatkan Iman dan Bersiap dengan Maut.
Cinta dunia adalah salah satu penyakit akhir zaman yang dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW akan menimpa umatnya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda yang artinya :
"Hampir tiba masa di mana kalian diperebutkan sebagaimana sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.
Seorang sahabat bertanya : Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulallah?
Rasulullah menjawab : Tidak.
Bahkan saat itu jumlah kalian sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kalian tertimpa penyakit wahn.
Sahabat bertanya lagi : Apakah penyakit wahn itu, ya Rasulallah?
Beliau menjawab : Penyakit wahn itu adalah cinta dunia dan takut mati."
(HR Abu Daud)
2). Jalani Hidup Seperti Orang Asing!
Rasulullah SAW pernah berpesan agar menjalani hidup di dunia seperti orang asing.
Beliau menyampaikan hal ini pada salah seorang sahabat, Ibnu Umar RA.
Sebagaimana Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia berkata:
أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلِ
"Rasulullah SAW menepuk kedua pundakku, lalu bersabda, 'Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau orang yang singgah dalam perjalanan.
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ:
إِذَا أَمْسَيْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ،
Ibnu Umar berkata : Jika engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi.
وَإِذَا أَصْبَحْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ،
Dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore.
وَخُذْ مِنْ صِحْتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, dan sewaktu engkau hidup untuk matimu."
(HR Bukhari)
3). Hidup Tidak Kikir.
Dunia itu fana dan jangan sampai menganggapnya sebagai tempat tinggal yang abadi.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran :
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan.
كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ
(Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur.
وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗ
Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya.
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ٢٠
Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya."
(QS. Al Hadid : 20)
Oleh karena itu, janganlah melampaui batas dalam mencintai harta benda duniawi hingga menjadikan kikir untuk beramal dengan harta benda itu!
4). Hendaklah Berzuhud.
Dalam Hadits Rasulullah Saw dijelaskan :
وعن أبي العباس سَهْلِ بن سعد الساعدي ، رضي الله عنه ، قال : جاء رجل إلى النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : فقال :
"Dari Ibnu Abbas, yakni Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi RA, berkata, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :
يا رسول الله دلني على عَمَلٍ إِذا عَمِلْتُهُ أَحبَّنِي الله ، وَأَحبَّنِي النَّاسُ ،
Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia!
فقال : « ازْهَدْ في الدنيا يُحِبك الله ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحبَّكَ النَّاسُ
Beliau SAW bersabda : Berzuhudlah di dunia, tentu engkau dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai para manusia."
(Hadits ini hasan, diriwayatkan Ibnu Majah dan lainnya dengan isnad-isnad yang baik)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi kehidupan kita, dalam rangka menggapai ampunan dan ridha Allah Ta'ala.
Insyaa Allah hidayah selalu ada di dalam hati kita, sehingga kita tidak menjadi manusia yang terlalu cinta dunia
Ustadz Abah Dini
27 Juli 2026
Allah 'Azza wa Jalla menciptakan Jin dan Janusia untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.
_Sebagaimana firman Allah Ta'ala di dalam Al-Quran Surat QS Az-Zariyat Ayat 56, yang berbunyi :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Disamping menciptakan Jin dan Manusia untuk beribadah, Allah Ta'ala juga menjadikan mati dan hidup, untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya.
Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Mulk Ayat 2, yang berbunyi :
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
Kemudian di dalam menjalankan syariat-Nya, Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai panutan dan teladan umat manusia.
Sehingga setiap manusia wajib tunduk kepada Alqur'an dan Sunnah.
Semua amalan yang baik akan sampai kepada Allah Ta'ala manakala seorang hamba mengerjakannya sesuai petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah (ittiba').
Kemudian dibarengi dengan sifat ikhlas dengan tujuan hanya mengharap ridha Allah.
Namun perlu diketahui, bahwa dalam perjalanan hidup manusia ada beberapa perkara yang dapat menggerogoti amalan-amalan baiknya.
Adapun beberapa perkara yang bisa menggerogoti amalan² baik manusia ada enam perkara dan diantara enam perkara tersebut antara lain :
1). Al Istighlal bi'uyubil kholqi.( الإشتغال بعيوب الخلق )
(Sibuk dengan aib orang lain, sehingga lupa pada aib sendiri).
Seperti Pepatah : Semut di seberang kelihatan sedang gajah dipelupuk mata tidak kelihatan.
2). Qaswatul qulub. (Hati yang keras). ( قسوة القلوب )
Kerasnya hati terkadang lebih keras dari batu karang. Sulit menerima nasihat.
3). Hubbud-dunya. (Cinta dunia).( حب الدنيا )
Merasa hidupnya hanya di dunia saja. Segala aktifitasnya tertuju pada kenikmatan dunia sehingga lupa akan hari esok di akhirat.
4). Qillatul haya'. (Sedikit rasa malunya). ( قلة الحياء )
Apabila seseorang telah kehilangan rasa malu maka akan melakukan apa saja tanpa takut dosa.
5). Thulul amal. (Panjang angan-angan). ( طول الامل )
Merasa hidupnya masih lama di dunia ini sehingga enggan untuk taubat.
6). Dzhulmun la yantahi. ( ظلم لا ينتهي )
(Kezhaliman yang tak pernah berhenti). Perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan bagi pelakunya jika tidak segera taubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut.
Wallahu A'lam Bish-shawwab
Tetap semangat dan Istiqamah dalam IBADAH di akhir malam,🌃 mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari enam perkara ini sehingga tetap istiqamah dalam ketaqwaan.
Ustadz Abah Dini
26 Juli 2026
Musim Dingin Bagaikan Musim Semi Bagi Orang Beriman.
Kalimat diatas sejalan dengan riwayat dari Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
الشِّتَاءُ رَبِيعُ الْمُؤْمِنِ
“Musim dingin terasa seperti musim semi bagi orang beriman.”
[HR. Ahmad 3/75]
Kemudian Imam Al Baihaqi dan selainnya mengeluarkan dengan tambahan :
الشِّتَاءُ رَبِيعُ الْمُؤْمِنِ قَصُرَ نَهَارُهُ فَصَامَ وَطَالَ لَيْلُهُ فَقَامَ
“Musim dingin seperti musim semi bagi orang beriman. Siangnya begitu singkat, maka ia gunakan untuk berpuasa dan malamnya begitu panjang, maka ia gunakan untuk shalat malam.”
[HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (4/297)]
Musim Dingin Saat Meraih Ghonimah.
Dalam musnad Ahmad dan At Tirmidzi, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
الْغَنِيمَةُ الْبَارِدَةُ الصَّوْمُ فِى الشِّتَاءِ
“Ghonimah baaridah adalah puasa di musim dingin.”
[HR. Tirmidzi no. 797]
Abu Hurairah pernah bertanya, “Tahukah kalian ghonimah baaridah (yang menyejukkan, terasa dingin)?” “Tidak”, jawab mereka (yang ditanya). “Berpuasa saat musim dingin”, jawab Abu Hurairah."
[Lathoif Al Ma’arif, 564.]
Yang dimaksud ghonimah baaridah bahwasanya ghonimah tersebut diperoleh tanpa melakukan peperangan, tanpa ada rasa capek dan tanpa ada kesulitan sama sekali.
Artinya :"Orang yang mendapatkan ghonimah ini tanpa ada kesulitan sama sekali."
Shalat Tahajjud di Musim Dingin Malam di musim dingin amat panjang.
Hal ini bukan berarti seorang mukmin malas-malasan, berselimut terus hingga shuhuh hari sehingga enggan bermunajat pada Sang Khaliq di akhir malam.
Justru ini adalah kesempatan yang baik untuk melaksanakan Shalat tahajjud.
Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan,
الليل طويل فلا تقصره بمنامك و الإسلام نقي فلا تدنسه بآثامك
“Malam yang panjang, janganlah engkau membuatnya singkat dengan hanya tidur-tiduran saja. Islam adalah agama yang bersih, janganlah engkau campuri dengan gelimangan dosamu.”
Sangat berbeda dengan musim panas.
Malam di musim panas begitu singkat dan amat panas, amat sulit mengambil waktu istirahat saat itu. Sehingga seseorang yang ingin melaksanakan shalat malam pun butuh usaha keras. Waktu malam pun tidak bisa digunakan banyak untuk membaca Al Qur’an sesuai rutinitas.
Ibnu Mas’ud pernah mengatakan :
مرحبا بالشتاء تنزل فيه البركة و يطول فيه الليل للقيام و يقصر فيه النهار للصيام
“Selamat datang musim dingin. Kala itu turun barokah dengan malam yang begitu panjang untuk shalat malam. Sebaliknya, siang begitu singkat untuk berpuasa.”
Al Hasan Al Bashri mengatakan :
نعم زمان المؤمن الشتاء ليله طويل يقومه و نهاره قصير يصومه
“Sebaik-baik waktu bagi orang mukmin adalah di musim dingin. Malamnya begitu panjang untuk shalat malam dan siangnya begitu singkat untuk puasa.”
‘Ubaid bin ‘Umair berkata :
يا أهل القرآن طال ليلكم لقراءتكم فاقرأوا و قصر النهار لصيامكم فصوموا
“Wahai ahli Qur’an, ini adalah malam yang panjang, waktu untuk kalian memperbanyak bacaan Al Qur’an, maka banyak bacalah. Saat ini siang begitu singkat untuk puasa kalian, maka berpuasalah.”
Begitu Berat Shalat Tahajjud.
Di musim dingin memang terasa berat untuk melaksanakan shalat tahajjud meskipun sudah diberi kesempatan dengan malam yang begitu panjang. Kenapa terasa berat?
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan ada dua alasan.
Alasan pertama, jiwa yang begitu berat untuk bangun karena kondisi yang begitu dingin.
Alasan kedua, rasa sulit ketika ingin menyempurnakan wudhu.
Namun ketahuilah bahwa menyempurnakan wudhu di saat cuaca begitu dingin adalah :Amalan yang afdhol.
Disebutkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda :
أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ. قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ.
“Maukah kalian untuk aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada sesuatu yang dibenci (seperti keadaan yang sangat dingin pent), banyaknya langkah kaki ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Itulah ribath.”
Al Qodhi Abul Walid Al Baji berkata, “Asal kata ‘ribath’ adalah terikat pada sesuatu. Artinya di sini, ia menahan dirinya (dari kemalasan) untuk tetap melakukan ketaatan.”
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Tetaplah semangat bangun di akhir malam 🌃walau terasa dingin, Insyaa Allah tidak akan sia² apa yang akan kita dapat dari Allah Ta'ala.
Hawa dingin hanyalah cuaca di dunia, namun di akhirat kelak akan menjadi cuaca yang sejuk dan membuat kita bahagia!
Ingatlah tidak ada kemudahan kecuali yang Allah buat mudah, dengan do'a :
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
"Ya Allah, berilah kami kemudahan di musim dingin ini. Jadikanlah kondisi yang ada serasa di musim panas dengan penuh kehangatan. Mudahkanlah kami pula dalam setiap ibadah dan aktivitas yang ada."
Ustadz Abah Dini
25 Juli 2026
Kadang manusia itu tidak sadar, bahwa hidup bermegah - megahan itu ternyata melalaikan dalam keta'atan.
Pernyataan "bermegah-megahan melalaikan ketaatan" adalah keterangan inti dari Surah At-Takasur ayat pertama, yaitu : "Manusia pada sibuk mengejar harta, keturunan, dan kedudukan duniawi sehingga pada lupa beribadah kepada Allah Ta'ala.
Kesibukan tersebut membuat manusia terlena sampai ajal menjemput dan masuk ke dalam kubur.
Makna dan Peringatan Lalai dari Akhirat : Manusia merasa bangga dengan jumlah kekayaannya dan atau pengikut yang banyak.
Hingga Ajal Tiba :
Kelalaian itu terus berlangsung tanpa sadar sampai kematian datang mendadak.
Pertanggungjawaban :
Kelak di hari kiamat, setiap nikmat dunia yang dibanggakan itu akan ditanya oleh Allah.
Manusia sering lupa dan bahkan tidak percaya jika diingatkan bahwa bermegah-megahan itu melalaikan, baru akan yakin justru kalau sudah mati dan masuk di alam kubur.
Mari kita baca firman Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an surat At-Takatsur ayat 1-2 :
اَلۡهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُۙ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
حَتّٰى زُرۡتُمُ الۡمَقَابِرَؕ
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Kelak di alam kubur banyak manusia yang baru akan yakin lagi sadar, bahwa apa yang dibangga-banggakan (harta, anak, pangkat dan banyak nya kelompok) untuk bermegah-megahan itu akan ditanyakan.
Coba kita baca lagi Al-Qur'an ayat terakhir dari surat At-Takatsur :
ثُمَّ لَـتُسۡـَٔـلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ النَّعِيۡمِ
"kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)."
Diriwayatkan dari Mutharrif dari ayahnya, ia berkata :
"Saya menemui Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika beliau sedang membaca Al-Hakumut-Takatsur, beliau bersabda : "Anak Adam berkata : "Inilah harta saya, inilah harta saya".
Lalu Nabi bersabda : "Wahai anak Adam! Engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan dan telah engkau habiskan, atau pakaian yang engkau pakai hingga lapuk, atau yang telah kamu sedekahkan sampai habis."
(Riwayat Muslim)
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga bermanfaat dan kita semua pada sadar, bahwa bermegah-megahan itu benar² akan bisa melalaikan kita kepada Allah Ta'ala. Tidak sedikit manusia akan sadar, jikalau apa yang kita bangga²kan itu hilang dan tidak ada gunanya.
Tetap semangat dan istiqamah dalam IBADAH, Insyaa Allah dengan IBADAH kita akan selalu di ingatkan oleh Allah Ta'ala menjadi manusia yang tidak membangga-mbanggakan kemegahan (harta, anak, pangkat dan kelompok).
Ingat kata² ini : "Megah itu belum tentu Indah dan sederhana itu belum tentu membuat manusia menjadi Susah!
Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mannasir.
Ustadz Abah Dini
24 Juli 2026
لَا تَنْتَظِرِ الْكِبَرَ لِلتَّوْبَةِ، فَإِنَّ الْمَوْتَ لَا
يَنْتَظِرُ الشَّيْبَ.
"Jangan tunggu tua untuk bertaubat. Karena kematian tidak menunggu uban."
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Semua bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera bertaubat.” (HR. Ibnu Majah).
1). Taubat saat ajal sudah dijemput/sakaratul maut.
Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran surat An-Nisa' Ayat 18, yang berbunyi :
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa' : 18).
2). Ketika hari kiamat tiba.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala di dalam surat Al-An'am Ayat 158, bunyinya :
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfa'at lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah : "Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).” (QS. Al-An'am : 158).
Menurut Tafsir Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat di atas menegaskan bahwa taubat dan iman seseorang yang baru ia lakukan di hari kiamat tidaklah berguna, sebagaimana tidak bergunanya iman Fir’aun ketika baru menyadari kuasa Allah di saat ia tenggelam di laut merah.
Oleh karena itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ، فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ، مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku juga bertaubat kepada-Nya sehari seratus kali.” (HR. Muslim).
Wallahu A'lam Bish-shawwab
Semoga bermanfaat dan menginspirasi kehidupan kita, sehingga semakin tua kita senang beramal shaleh menuju Taqwa dan bisa memperbanyak Istighfar hingga ajal menjemput kita, Insyaa Allah kelak di akhirat Allah Ta'ala berkenan menerima bisa masuk Surga!
Ustadz Abah Dini
23 Juli 2026
Allah Ta'ala berfirman, yang seakan menawarkan kepada hamba²-Nya, sebagaimana tersirat di dalam Al-Quran yang berbunyi :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْ
"Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?"
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya."
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang besar."
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga kita mampu menjalani dagangan Allah yang ditawarkan kepada kita Insan Beriman, sehingga kita bisa selamat dari azab Neraka!
Ustadz Abah Dini
22 Juli 2026
Seperti sebuah maqolah/kata hikmah yang populer sebagai prinsip orang Islam, yang berbunyi :
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
"Dunia adalah ladang akhirah"
Kata hikmah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa apa pun yang kita lakukan di dunia ini, seperti beramal shaleh dan bekerja keras akan menjadi bekal pahala yang dipanen di akhirat kelak.
Sebagai rujukan kalimah hikmah tersebut, Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 77, yang berbunyi :
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ٧٧
"Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Di dalam ayat yang lain, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah Ta'ala jelaskan :
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٦١
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."
Allah Ta'ala jelaskan lagi di dalam Al-Quran Surat Az-Zalzalah Ayat 7-8, yang berbunyi :
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."
Kemudian di dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 145, Allah Ta'ala berfirman pula yang berbunyi :
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ ١٤٥
"Setiap yang bernyawa tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu dan siapa yang menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
Selain ayat-ayat di atas, konsep ini juga diperkuat oleh hadits populer yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi yang berbunyi :
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الآخِرَةِ
"Ad-dunya mazra'atul akhirah" yang artinya "Dunia adalah ladang untuk akhirat."
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga bermanfaat dan Allah Ta'ala selalu memberi kekuatan Iman dan Islam kepada kita semua, sehingga kita bisa istiqamah dalam IBADAH serta AMAL SHALEH yang Insyaa Allah dapat kita panen kelak di AKHIRAT.
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin 🤲🏻🤲🏻
Ustadz Abah Dini
21 Juli 2026
Apa maksudnya?
Di dalam Hadits dikisahkan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)
Imam Nawawi Rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan : “Orang mukmin terpenjara di dunia karena mesti menahan diri dari berbagai syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan. Orang mukmin juga diperintah untuk melakukan ketaatan."
Ketika ia mati, barulah ia rehat dari hal itu.
Kemudian ia akan memperoleh apa yang telah Allah janjikan dengan kenikmatan dunia yang kekal, mendapati peristirahatan yang jauh dari sifat kurang.
Adapun orang kafir, dunia yang ia peroleh sedikit atau pun banyak, ketika ia meninggal dunia, ia akan mendapatkan azab (siksa) yang kekal abadi.
Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan : “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.”
Jadi bersabarlah dari maksiat dengan menahan diri. Karena dunia ini adalah penjara bagi kita dan di akhirat kita akan peroleh balasannya.
Orang yang bersabar dalam menahan diri dari maksiat dijanjikan pahala tanpa batas, dihapuskan dosa-dosanya, dan dianugerahi surga.
Menolak godaan dosa menjadi bukti ketaqwaan, yang membuat pelakunya dicintai Allah SWT dan diberikan ketenangan hati di dunia.
Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka.
Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman di dalam Al-Quran :
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa“.
[Al-Baqarah :177]
Ketahuilah bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya :
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar“.
[Ali Imran :146]
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Mari Istiqomah dalam Ibadah, agar iman bertambah, hidup menjadi berkah, Insyaa Allah akhir hayat Khusnul Khatimah.
🤲🏻🤲🏻 Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.
Ustadz Abah Dini
20 Juli 2026
Diantara 4 nasib perjalanan hidup manusia yang pasti akan ditempuh adalah :
سعيد في الدنيا وسعيد في الآخرة:
Sa'idun Fiddunya wa Sa'idun fil Akhirah.
1)."Ada orang yang akan bahagia di dunia dan bahagia pula di akhirat."
Ini yang setiap muslim inginkan, yang didamba-dambakan.
سعيد في الدنيا وشقي في الآخرة
Sa'idun Fiddunya wa Syaqiyyun fil Akhirah.
"Ada orang yang bahagia di dunia tetapi sengsara di akhirat."
Orang seperti ini biasanya orang-orang yang terlena akan gemerlapnya dunia, sehingga ia lupa akan akhiratnya.
Padahal kebahagiaan dunia hanyalah ibarat setetes air dari luasnya samudera yakni akhirat.
شقي في الدنيا وسعيد في الآخرة:
Syaqiyyun Fiddunya wa Sa'idun fil Akhirah.
"Ada orang yang sengsara di dunia tapi berbahagia di akhirat. Orang-orang seperti ini biasanya orang yang senantiasa bersabar akan keadaan dunia, dan senantiasa beribadah kepada Allah SWT.
شقي في الدنيا وشقي في الآخرة
Syaqiyyun Fiddunya wal Syaqqiyun fil Akhirah._
"Ada orang yang sengsara di dunia, sengsara pula di akhirat."
Orang-orang seperti ini adalah sebodoh-bodohnya manusia.
Biasanya orang-orang seperti ini mengetahui apa arti kebahagiaan hanya saja ia tidak mau mengusahakannya.
Terkait dengan 4 nasib perjalanan hidup manusia, Allah Ta'ala telah memberi 3 sarana yaitu :
1. Ilmu
2. Harta
3. Tahta
Terkai dengan hal tersebut, mari kita ambil hikmah dari kisah Nabi Sulaiman a.s!
Nabi Sulaiman a.s. ditawari oleh Allah Ta'ala untuk memilih antara Ilmu, Harta, dan Tahta.
Nabi Sulaiman a.s. dengan tegas memilih Ilmu, dan pilihan tersebut terbukti adalah pilihan yang terbaik.
Dengan pilihan itu, Nabi Sulaiman a.s. akhirnya mendapatkan Harta dan Tahta sebagai Raja, bahkan ditambah Wanita, atas kehendak dan sepersetujuan Allah.
Nabi Sulaiman a.s. adalah : "Raja yang sangat kaya dengan wilayah kekuasaan yang luas."
Memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga Raja-raja negara lain pun menaruh hormat kepadanya.
Nabi Sulaiman a.s. merupakan Nabiyullah yang tercatat dalam sejarah sebagai nabi yang cerdas, kaya raya, berkuasa dan shalih.
Nabi Sulaiman a.s. lebih memilih ilmu daripada harta dan kerajaan.
Itulah pilihan Nabi Sulaiman a.s. yang sangat tepat.
Nabi Sulaiman a.s. paham betul bahwa Ilmu itu tidak seperti harta dan kerajaan (tahta).
Dengan Ilmu, akan menemukan banyak hikmah dalam kehidupan, diantaranya :
1). Hikmah Ilmu, sangat ringan dibawa ke mana-mana & bisa menjaga manusia (yang memiliki ilmu).
2). Hikmah Ilmu, seperti biji yang tumbuh menjadi pohon yang kemudian menghasilkan buah yang segar dan bermanfaat.
3). Hikmah Ilmu, bisa menjadi cahaya yang menyingkirkan duri dan gelapnya jalan menuju yang terang, sehingga tujuan hidup manusia akan tahu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah.
Mana arah ke Surga mana arah ke Neraka.
Mana jalan menuju kaya dan mana jalan menuju kemelaratan.
Dengan berbekal Ilmu yang luas, Nabi Sulaiman a.s. berhasil menguasai dunia bukan dikuasai dunia.
Beliau pun berhasil menjadi raja yang cerdas nan kaya raya.
Pada akhirnya Ilmu, Harta, Tahta dan bahkan Wanita bisa mendampinginya yang semua itu sudah dapat dicapainya.
Begitulah fakta dan realitas bahwa orang berilmu derajatnya lebih tinggi daripada yang tidak berilmu.
Bahkan Allah Ta'ala akan mengangkat derajat orang² yang beriman bersama orang² berilmu.
Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran Surat Al-Mujadillah ayat 1, yang berbunyi :
...يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
"...Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, sehingga bisa mencerdaskan pikiran kita (manusia), sehingga kita bisa tahu dan faham akan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Tetap semangat dan istiqamah dalam IBADAH Fii Mardhatillah, Insyaa Allah hidup kita bisa senang dan bahagia dunia akhirat.
Toh jika belum bisa senang dan bahagia dunia akhirat, dengan bekal Ilmu kita bisa mempunyai sifat sabar dan tawakal menjalani kehidupan dunia yang akan bisa menghantarkan kebahagiaan akhirat di Surganya Allah Ta'ala.
Ustadz Abah Dini
19 Juli 2026
Kemudian Pertanyaan Tambahan (dalam beberapa riwayat) :
Terkait Keterangan Diatas, Dalam Riwayat Lain disebutkan :
Imam Tirmidzi (1071) meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam Hadits yang panjang :_
( إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ ، فَيَقُولَانِ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ : هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . فَيَقُولانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ : نَمْ ، فَيَقُولُ : أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ ، فَيَقُولَانِ : نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لا يُوقِظُهُ إِلا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ .وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ : سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لا أَدْرِي . فَيَقُولَانِ : قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ : الْتَئِمِي عَلَيْهِ ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلاعُهُ ، فَلا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ. (والحديث حسنه الألباني في صحيح الترمذي) .
“Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Mungkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata : Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)?,
maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia : Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata : Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu. Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, da dikatakan : Tidurlah. Dia menjawab : “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku”. Keduanya berkata : “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut”.
Wallahu A'lam Bish-shawwab.
Semoga bermanfaat, mari mumpung masih ada waktu dan kesempatan, gunakan untuk mencari bekal dengan tekun beribadah.
Ingatlah Allah dan Rasulullah, bacalah Al-Qur'an dan suka bersilaturahmi, Insyaa Allah itu semua bisa menjadi bekal untuk menjawab pertanyaan di alam kubur setelah kita meninggalkan dunia ini!
Ustadz Abah Dini